Di lingkungan perguruan tinggi, kadang muncul tipe akademisi yang sangat vokal dalam menuntut hak, tetapi nyaris tidak pernah hadir dalam perjuangan meningkatkan kapasitas dirinya sendiri. Ketika ada pembukaan proposal penelitian, ia tidak mengajukan. Saat ada kesempatan studi lanjut, pelatihan, sertifikasi, atau pengembangan kompetensi, ia juga memilih diam di tempat. Namun anehnya, energi dan waktunya justru habis untuk mengomentari, mencurigai, dan mencari kesalahan kolega lain yang sedang berusaha maju.
Ketika dosen lain memperoleh hibah penelitian, membangun
jejaring, menghasilkan publikasi, atau dipercaya mengelola proyek akademik,
yang muncul darinya bukan rasa hormat atau semangat untuk belajar, melainkan
iri hati, sinisme, dan tuduhan bahwa sistem tidak adil. Ia lebih sibuk
merendahkan capaian orang lain daripada bertanya pada dirinya sendiri: “Apa
yang sudah saya usahakan untuk berkembang?”
Ironisnya, saat ada tuntutan kenaikan kesejahteraan,
tunjangan, atau fasilitas, justru ia yang paling lantang berada di barisan
depan. Hak ingin diperbesar, tetapi tanggung jawab dan kontribusi sering
dihindari. Kritik terus dilontarkan, tetapi refleksi diri nyaris tidak pernah
dilakukan.
Perguruan tinggi tidak akan maju jika dipenuhi budaya
seperti ini: budaya pasif dalam karya, tetapi agresif dalam keluhan; miskin
kontribusi, tetapi kaya prasangka; enggan bertumbuh, tetapi gemar menjatuhkan.
Lingkungan akademik seharusnya dibangun oleh orang-orang yang mau belajar,
bekerja, berkompetisi secara sehat, dan menghargai keberhasilan orang lain
sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk menebar
dengki.
Sosok seperti ini perlahan dapat menjadi “hama intelektual”
di kampus: tidak menghasilkan banyak karya, tetapi mampu menyebarkan energi
negatif, mematikan semangat kolega muda, merusak budaya meritokrasi, dan
menciptakan iklim akademik yang toksik. Kampus akhirnya bukan lagi ruang
tumbuh, melainkan arena saling curiga dan saling menjatuhkan.
Pertanyaannya bukan sekadar “apakah ada tipe dosen seperti
ini?”, tetapi lebih penting lagi: apakah lingkungan akademik kita berani
membangun budaya yang menghargai kerja nyata, integritas, dan kemauan untuk
terus berkembang — sekaligus tidak memberi ruang terlalu besar bagi mentalitas
malas bertumbuh namun rajin menyalahkan keadaan?