Wednesday, March 18, 2026

#Memang kamu siapa?

Memangnya Kamu Siapa?

Memangnya kamu siapa?

Saudara bukan.Tapi kenapa sikapmu seolah paling berhak mengatur hidupku?

Ayahku juga bukan.Usiamu bahkan lebih muda dariku.Namun nada bicaramu penuh penghakiman, seakan hidupku harus tunduk pada standarmu.

Ibuku juga bukan.Kamu lelaki, tapi sibuk mengatur perasaanku, pilihanku, langkah hidupku, seolah dirimu pemilik kebenaran tunggal.

Adikku pun bukan.Sebab seorang adik semestinya membawa hormat, bukan menabur siasat dan menjelma seperti Sengkuni—pandai memainkan kata, gemar mengadu domba, dan menikmati keruhnya hubungan antarmanusia.

Memangnya kamu siapa?

Ulama bukan.Karena ulama sejati menjaga martabat manusia, bukan gemar merusak nama baik sesamanya.Yang tampak darimu hanyalah gemuruh ceramah tanpa keteladanan, kesalehan yang sibuk dipamerkan, tapi miskin kebijaksanaan.

Hakim juga bukan. Tapi sikapmu seolah dirimu memiliki palu untuk memvonis siapa benar dan siapa salah.

Polisi bukan. Namun caramu bertanya seperti interogasi, seakan semua orang wajib menjelaskan hidupnya kepadamu.

Jaksa apalagi.Tetapi setiap ucapanmu terasa seperti tuntutan yang dipaksakan.

Wartawan juga bukan.Namun hidup orang lain kau kuliti habis demi rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.

Pejabat pun bukan.Tapi gayamu penuh pencitraan dan haus pengakuan, seolah dunia harus mengakui kebesaranmu.

Padahal yang tampak hanyalah satu hal:terlalu banyak “sok”.

Sok berkuasa.

Sok pejabat

Sok mengatur.

Sok paling bertakwa.

Sok paling benar.

Sok paling pintar.

Sok paling tahu segalanya.

Sok pahlawan atas masalah yang bahkan tidak dirimu pahami.

Ironisnya, orang-orang sepertimu sering lahir bukan dari kedalaman ilmu, melainkan dari kedangkalan hati.

Merasa tinggi karena merendahkan orang lain.Merasa penting karena ikut campur urusan orang lain.

Merasa mulia karena sibuk menghakimi hidup orang lain.Padahal manusia yang benar-benar besar tidak sibuk membuktikan dirinya besar.

Ia tidak haus tepuk tangan.Tidak gemar mengontrol hidup orang lain.

Tidak menjadikan agama, jabatan, usia, atau popularitas sebagai alat untuk menekan sesama.

Karena kedewasaan sejati bukan tentang siapa paling keras bicara,melainkan siapa yang paling mampu menjaga adab ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti.

Maka sekali lagi aku bertanya: Memangnya kamu siapa?

Kalau kehadiranmu hanya membawa tekanan, kepura-puraan, penghakiman, dan kegaduhan…maka jangan heran bila akhirnya orang memilih menjauhimu, bukan karena takut, tetapi karena muak.Sebab hormat tidak lahir dari suara keras, jabatan, atau pencitraan.

Hormat lahir dari akhlak, ketulusan, dan kemampuan menghargai manusia lain sebagai manusia.

Dan itu…tidak bisa dipalsukan. Tahu dirilah dan tahu batas.

 

No comments:

Post a Comment