“Memangnya Kamu Siapa?”
Memangnya kamu siapa?
Saudara bukan.Tapi kenapa sikapmu seolah paling berhak
mengatur hidupku?
Ayahku juga bukan.Usiamu bahkan lebih muda dariku.Namun nada
bicaramu penuh penghakiman, seakan hidupku harus tunduk pada standarmu.
Ibuku juga bukan.Kamu lelaki, tapi sibuk mengatur
perasaanku, pilihanku, langkah hidupku, seolah dirimu pemilik kebenaran
tunggal.
Adikku pun bukan.Sebab seorang adik semestinya membawa
hormat, bukan menabur siasat dan menjelma seperti Sengkuni—pandai memainkan
kata, gemar mengadu domba, dan menikmati keruhnya hubungan antarmanusia.
Memangnya kamu siapa?
Ulama bukan.Karena ulama sejati menjaga martabat manusia,
bukan gemar merusak nama baik sesamanya.Yang tampak darimu hanyalah gemuruh
ceramah tanpa keteladanan, kesalehan yang sibuk dipamerkan, tapi miskin
kebijaksanaan.
Hakim juga bukan. Tapi sikapmu seolah dirimu memiliki palu
untuk memvonis siapa benar dan siapa salah.
Polisi bukan. Namun caramu bertanya seperti interogasi,
seakan semua orang wajib menjelaskan hidupnya kepadamu.
Jaksa apalagi.Tetapi setiap ucapanmu terasa seperti tuntutan
yang dipaksakan.
Wartawan juga bukan.Namun hidup orang lain kau kuliti habis
demi rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Pejabat pun bukan.Tapi gayamu penuh pencitraan dan haus
pengakuan, seolah dunia harus mengakui kebesaranmu.
Padahal yang tampak hanyalah satu hal:terlalu banyak “sok”.
Sok berkuasa.
Sok pejabat
Sok mengatur.
Sok paling bertakwa.
Sok paling benar.
Sok paling pintar.
Sok paling tahu segalanya.
Sok pahlawan atas masalah yang bahkan tidak dirimu pahami.
Ironisnya, orang-orang sepertimu sering lahir bukan dari
kedalaman ilmu, melainkan dari kedangkalan hati.
Merasa tinggi karena merendahkan orang lain.Merasa penting
karena ikut campur urusan orang lain.
Merasa mulia karena sibuk menghakimi hidup orang
lain.Padahal manusia yang benar-benar besar tidak sibuk membuktikan dirinya
besar.
Ia tidak haus tepuk tangan.Tidak gemar mengontrol hidup
orang lain.
Tidak menjadikan agama, jabatan, usia, atau popularitas
sebagai alat untuk menekan sesama.
Karena kedewasaan sejati bukan tentang siapa paling keras
bicara,melainkan siapa yang paling mampu menjaga adab ketika memiliki
kesempatan untuk menyakiti.
Maka sekali lagi aku bertanya: Memangnya kamu siapa?
Kalau kehadiranmu hanya membawa tekanan, kepura-puraan, penghakiman, dan kegaduhan…maka jangan heran bila akhirnya orang memilih menjauhimu, bukan karena takut, tetapi karena muak.Sebab hormat tidak lahir dari suara keras, jabatan, atau pencitraan.
Hormat lahir dari akhlak, ketulusan,
dan kemampuan menghargai manusia lain sebagai manusia.
Dan itu…tidak bisa dipalsukan. Tahu dirilah dan tahu batas.
No comments:
Post a Comment