Sunday, October 25, 2026

Memangnya kamu siapa??

Memangnya kamu siapa?

Saudara bukan, tetapi sikap dan perilakumu begitu berlebihan, seolah-olah memiliki hak untuk mengatur dan mencampuri segala urusanku.

Bapakku juga bukan, apalagi usiamu lebih muda dariku.

Ibuku pun bukan, karena kamu seorang laki-laki.

Adikku juga bukan. Sebab, perilakumu tidak mencerminkan sikap seorang adik yang semestinya menghormati kakaknya. Justru, perilakumu terkadang menyerupai Sengkuni, tokoh yang dikenal licik dan penuh tipu muslihat, dengan watak yang bertolak belakang dengan prinsip hidupku.

Memangnya kamu siapa?

Ulama juga bukan. Sebab, perilakumu justru terkesan menjelek-jelekkan diriku dan merusak kredibilitasku. Sikap seperti itu tidak mencerminkan keteladanan seorang ulama. Penampilan luar yang terkesan agamis tidak serta-merta menjadikan seseorang memiliki akhlak dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama.

Hakim juga bukan, tetapi perilakumu seolah-olah menempatkan dirimu sebagai hakim yang berhak mengadili orang lain.

Polisi juga bukan, tetapi sikapmu seolah-olah sedang menginterogasi seseorang yang menjadi tersangka.

Jaksa pun bukan, tetapi kamu bertindak seakan-akan memiliki kewenangan untuk mendakwa dan menuntut orang lain.

Wartawan juga bukan, tetapi kamu seolah-olah merasa berhak mengorek, menilai, dan menyebarluaskan segala hal tentang orang lain.

Pejabat juga bukan, tetapi lagakmu seolah-olah ingin menunjukkan kekuasaan dan membuat orang lain menganggapmu sebagai sosok yang hebat.

Sok berkuasa, sok mengatur, sok paling suci, sok paling bertakwa, sok paling benar, sok paling pintar, sok tahu, sok menjadi pahlawan, dan berbagai macam sikap sok lainnya.

Memangnya kamu siapa?

Belajarlah menempatkan diri. Pahami batas kewenanganmu. Hormati hak dan martabat orang lain. Jangan merasa paling berhak menilai, menghakimi, atau mengatur kehidupan orang lain hanya karena kamu merasa paling benar.

Ketahuilah siapa dirimu, pahami batas-batasmu, dan milikilah rasa malu.

Sebab, kedewasaan tidak diukur dari seberapa jauh seseorang berani mencampuri urusan orang lain, melainkan dari seberapa baik ia mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menempatkan diri secara proporsional.

No comments:

Post a Comment