Saturday, February 7, 2026

#Hama Perguruan Tinggi

Di lingkungan perguruan tinggi, kadang muncul tipe akademisi yang sangat vokal dalam menuntut hak, tetapi nyaris tidak pernah hadir dalam perjuangan meningkatkan kapasitas dirinya sendiri. Ketika ada pembukaan proposal penelitian, ia tidak mengajukan. Saat ada kesempatan studi lanjut, pelatihan, sertifikasi, atau pengembangan kompetensi, ia juga memilih diam di tempat. Namun anehnya, energi dan waktunya justru habis untuk mengomentari, mencurigai, dan mencari kesalahan kolega lain yang sedang berusaha maju.

Ketika dosen lain memperoleh hibah penelitian, membangun jejaring, menghasilkan publikasi, atau dipercaya mengelola proyek akademik, yang muncul darinya bukan rasa hormat atau semangat untuk belajar, melainkan iri hati, sinisme, dan tuduhan bahwa sistem tidak adil. Ia lebih sibuk merendahkan capaian orang lain daripada bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang sudah saya usahakan untuk berkembang?”

Ironisnya, saat ada tuntutan kenaikan kesejahteraan, tunjangan, atau fasilitas, justru ia yang paling lantang berada di barisan depan. Hak ingin diperbesar, tetapi tanggung jawab dan kontribusi sering dihindari. Kritik terus dilontarkan, tetapi refleksi diri nyaris tidak pernah dilakukan.

Perguruan tinggi tidak akan maju jika dipenuhi budaya seperti ini: budaya pasif dalam karya, tetapi agresif dalam keluhan; miskin kontribusi, tetapi kaya prasangka; enggan bertumbuh, tetapi gemar menjatuhkan. Lingkungan akademik seharusnya dibangun oleh orang-orang yang mau belajar, bekerja, berkompetisi secara sehat, dan menghargai keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk menebar dengki.

Sosok seperti ini perlahan dapat menjadi “hama intelektual” di kampus: tidak menghasilkan banyak karya, tetapi mampu menyebarkan energi negatif, mematikan semangat kolega muda, merusak budaya meritokrasi, dan menciptakan iklim akademik yang toksik. Kampus akhirnya bukan lagi ruang tumbuh, melainkan arena saling curiga dan saling menjatuhkan.

Pertanyaannya bukan sekadar “apakah ada tipe dosen seperti ini?”, tetapi lebih penting lagi: apakah lingkungan akademik kita berani membangun budaya yang menghargai kerja nyata, integritas, dan kemauan untuk terus berkembang — sekaligus tidak memberi ruang terlalu besar bagi mentalitas malas bertumbuh namun rajin menyalahkan keadaan?

Tuesday, January 27, 2026

#Mindset, paradigma, manajemen keuangan

Perubahan besar dalam bangsa ini tidak akan pernah lahir hanya dari pergantian pejabat, slogan politik, atau pidato tentang reformasi. Perubahan sejati harus dimulai dari perubahan mindset dan paradigma, terutama dalam manajemen keuangan negara. Keuangan negara bukan ladang rampasan, bukan pula alat untuk membangun kerajaan kekuasaan kelompok tertentu. Uang rakyat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan hukum, tetapi juga di hadapan moral dan Tuhan.

Selama bertahun-tahun, bangsa ini sering dipaksa menerima kenyataan pahit: setiap upaya efisiensi anggaran yang seharusnya menjadi jalan menuju kesejahteraan rakyat justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu di kementerian, lembaga, dan lingkaran kekuasaan untuk memperkaya diri, keluarga, kelompok, bahkan sindikatnya. Kata “efisiensi” terdengar mulia di podium, tetapi dalam praktiknya kadang hanya menjadi kedok baru untuk memindahkan aliran uang ke kantong-kantong tertentu dengan cara yang lebih rapi dan sulit dilacak.

Rakyat tidak bodoh. Generasi muda terdidik juga tidak buta. Mereka melihat bagaimana ada pejabat yang ketika mulai menjabat hidupnya biasa saja, tetapi beberapa tahun kemudian kekayaannya melonjak secara tidak masuk akal. Rumah mewah bertambah, kendaraan mahal berjejer, bisnis keluarga berkembang luar biasa, sementara rakyat yang membayar pajak justru semakin terhimpit kebutuhan hidup. Ironisnya, semua itu sering dibungkus dengan narasi legalitas, jabatan, koneksi, dan permainan kekuasaan yang membuat kejahatan tampak “resmi”.

Lebih menyakitkan lagi ketika hukum yang seharusnya menjadi benteng keadilan justru kehilangan taring karena dicemari oleh aparat penegak hukum yang bermental korup, sakit, oportunis, dan rela menjual integritas demi uang dan jabatan. Hukum akhirnya terlihat tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Rakyat kecil dihukum cepat, sementara para perampok berdasi bisa bersembunyi di balik prosedur, celah aturan, dan perlindungan jaringan kekuasaan.

Karena itu, hukum harus dipertajam, tetapi bukan hanya pada teks undang-undang. Yang lebih penting adalah membersihkan lembaga penegak hukum dari aparat-aparat yang menjadikan hukum sebagai alat transaksi. Negara tidak boleh kalah oleh mafia yang bersarang di dalam sistemnya sendiri. Penegak hukum yang korup lebih berbahaya daripada penjahat biasa, karena mereka merusak kepercayaan rakyat terhadap negara. Ketika hukum dapat dibeli, maka keadilan mati perlahan.

Generasi muda terdidik harus menjadi kekuatan moral dan intelektual untuk memutus rantai kebusukan ini. Jangan tumbuh dengan cita-cita sekadar menjadi bagian dari sistem untuk ikut menikmati korupsi yang “terorganisir”. Bangsa ini membutuhkan anak muda yang berani membangun budaya transparansi, profesionalisme, dan integritas. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi terlalu lama kekurangan orang jujur yang berani mempertahankan prinsip ketika berhadapan dengan uang dan kekuasaan.

Pahami bahwa kecerdasan tanpa integritas hanya akan melahirkan koruptor yang lebih canggih. Pendidikan tinggi tanpa moral hanya akan menghasilkan penjahat intelektual yang mampu memanipulasi aturan dengan bahasa hukum dan administrasi. Sebaliknya, generasi yang cerdas sekaligus berkarakter akan mampu menciptakan sistem keuangan yang sehat, efisien, dan berpihak kepada rakyat.

Keadilan sejati tidak lahir dari pencitraan, melainkan dari keberanian menempatkan sesuatu secara proporsional. Adil itu adalah ketika yang sama diperlakukan sama, dan yang berbeda diperlakukan berbeda sesuai konteks dan tanggung jawabnya. Rakyat kecil yang mencuri karena lapar tidak bisa disamakan dengan pejabat yang merampok uang negara miliaran rupiah dengan penuh kesadaran dan fasilitas kekuasaan. Orang yang menjaga amanah harus dihormati, sedangkan mereka yang mengkhianati amanah publik harus dihukum tanpa pandang bulu.

Jika hukum benar-benar berdiri di atas keadilan, jika pengelolaan keuangan negara dibersihkan dari mental rakus dan budaya bancakan, serta jika generasi muda berani menolak warisan korupsi sistemik, maka cita-cita “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tidak akan tinggal menjadi tulisan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar. Ia akan menjadi kenyataan yang hidup dalam keseharian bangsa ini. Insya Allah.