“Hari ini saya ingin menegaskan kepada seluruh pejabat negara, aparatur pemerintahan, pimpinan lembaga, BUMN, aparat penegak hukum, dan seluruh elemen birokrasi: negara ini tidak boleh disandera oleh urusan pribadi, kepentingan kelompok, ataupun konflik internal yang mengorbankan kepentingan rakyat.
Kita semua adalah manusia. Setiap orang pasti memiliki
persoalan pribadi, masalah keluarga, urusan ekonomi, ambisi politik, bahkan
pertentangan kepentingan. Tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah. Namun
ketika seseorang diberikan amanah jabatan publik, maka sejak saat itu
kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Jabatan bukan
tempat untuk melindungi ego, membalas dendam, mengamankan kelompok, atau
memperkaya jaringan kekuasaan.
Saya melihat masih ada budaya yang berbahaya di negeri
ini: institusi diperlakukan seperti milik pribadi. Ada yang menggunakan
kewenangan untuk mengatur proyek bagi kroninya, melindungi kelompoknya,
mengamankan posisi keluarganya, bahkan menjadikan lembaga negara sebagai alat
tawar-menawar kepentingan. Ini tidak boleh terus terjadi. Negara tidak boleh
kalah oleh mental feodal, mental sektarian, dan mental penguasa kecil yang
merasa institusi adalah warisan keluarganya.
Institusi negara dibangun dengan uang rakyat,
dijalankan oleh amanah rakyat, dan harus bekerja untuk kepentingan rakyat.
Karena itu, siapa pun yang menjadikan institusi sebagai alat kepentingan
pribadi sesungguhnya sedang mengkhianati amanah publik.
Sebaliknya, apabila setiap orang bekerja dengan niat
memberikan yang terbaik bagi institusinya, maka dampaknya akan dirasakan
langsung oleh masyarakat luas. Pelayanan publik menjadi cepat, kebijakan
menjadi tepat, investasi tumbuh sehat, birokrasi menjadi profesional, dan
kepercayaan rakyat kepada negara akan meningkat. Negara maju bukan karena
banyak slogan, tetapi karena orang-orang di dalam sistem bekerja dengan
integritas dan rasa tanggung jawab.
Saya juga ingin mengingatkan bahwa budaya BAU —
business as usual — tidak bisa lagi dipertahankan. Cara kerja lambat, rutinitas
tanpa inovasi, budaya asal bapak senang, birokrasi bertele-tele, pembiaran
terhadap penyimpangan kecil, serta kebiasaan menunda pekerjaan adalah racun
bagi kemajuan bangsa. Jika mentalitas seperti ini terus dipelihara, maka negara
akan kalah bersaing, daerah akan tertinggal, dan rakyat akan terus menjadi
korban ketidakefisienan sistem.
Yang lebih berbahaya, budaya BAU ini perlahan berubah
menjadi karakter sosial: orang merasa nyaman dengan mediokritas, takut berubah,
takut dievaluasi, dan alergi terhadap profesionalisme. Akhirnya, yang bekerja
sungguh-sungguh justru dianggap ancaman, sementara yang tidak berprestasi
berlindung di balik solidaritas kelompok. Ini harus dihentikan.
Ke depan, saya meminta seluruh kementerian, lembaga,
pemerintah daerah, BUMN, dan seluruh institusi negara menerapkan sistem
pertanggungjawaban kerja yang terukur, transparan, dan dapat diawasi. Prestasi
kerja harus dimonitor secara nyata, bukan sekadar laporan di atas kertas atau
pencitraan di media sosial. Negara membutuhkan hasil, bukan drama birokrasi.
Reward dan punishment harus diterapkan secara tegas
dan adil tanpa pandang bulu. Mereka yang berprestasi, berintegritas, dan
memberikan kontribusi nyata bagi rakyat harus diberikan penghargaan dan ruang
untuk berkembang. Sebaliknya, mereka yang malas, menyalahgunakan jabatan,
bermain proyek, melindungi mafia, atau merusak institusi harus ditindak tegas,
siapa pun orangnya dan setinggi apa pun jabatannya.
Keadilan dalam birokrasi tidak boleh berhenti pada
slogan. Jangan sampai pegawai kecil dihukum cepat sementara pejabat besar yang
merusak sistem justru dilindungi karena kekuasaan dan koneksi politiknya.
Negara hukum yang sehat adalah negara yang berani menegakkan aturan secara
konsisten.
Saya percaya Indonesia bisa menjadi bangsa besar
apabila kita berani membersihkan budaya kerja yang rusak, memperkuat integritas
institusi, dan membangun mentalitas pelayanan publik yang sehat. Kita tidak
kekurangan orang pintar, kita tidak kekurangan sumber daya, tetapi terlalu lama
kita mentoleransi budaya kerja yang salah.
No comments:
Post a Comment