Perubahan iklim bukan lagi isu seminar, jargon aktivis, atau bahan diplomasi basa-basi antarnegara. Ia sudah hadir di sawah yang gagal panen, suhu kota yang makin brutal, banjir yang menenggelamkan permukiman, laut yang merusak pesisir, hingga harga pangan yang terus melonjak. Menolak fakta krisis iklim pada hari ini sama saja dengan menolak kenyataan yang terjadi di depan mata. Sayangnya, sebagian generasi lama masih terjebak dalam pola pikir usang: menganggap eksploitasi tanpa batas sebagai tanda kemajuan dan melihat isu iklim sebagai ancaman bagi kepentingan ekonomi jangka pendek. Ketika negara besar seperti Amerika Serikat keluar atau melemahkan komitmen dalam berbagai perjanjian internasional terkait iklim, dampaknya bukan sekadar simbolik, tetapi langsung memukul skema pembiayaan global untuk transisi energi dan penyelamatan lingkungan. Dalam situasi seperti ini, munculnya kekuatan ekonomi alternatif seperti BRICS Plus dapat menjadi jalan baru untuk membangun kerja sama pembiayaan yang lebih mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada arsitektur keuangan lama yang sering sarat kepentingan politik.
Karena itu, harapan terbesar ada pada generasi muda:
generasi yang masih punya waktu untuk memperbaiki arah peradaban sebelum
kerusakan menjadi permanen. Tetapi kesadaran iklim tidak cukup berhenti pada
unggahan media sosial, slogan hijau, atau seremoni simbolik. Dibutuhkan gerakan
yang disiplin, terstruktur, dan berbasis ilmu pengetahuan—dimulai dari kampus,
sekolah, komunitas riset, hingga ruang-ruang publik tempat lahirnya gagasan dan
kebijakan. Anak muda harus didorong menjadi generasi yang berani menekan
industri perusak lingkungan, mengubah pola konsumsi, mengawasi kebijakan
negara, dan membangun inovasi yang benar-benar berpihak pada keberlanjutan
hidup. Siapa pun yang hari ini masih anti terhadap agenda iklim pada dasarnya
sedang mewariskan beban kehancuran kepada generasi berikutnya. Dan sejarah
tidak akan mencatat mereka sebagai penjaga kemajuan, melainkan sebagai
orang-orang yang tahu bahayanya tetapi memilih diam demi kenyamanan sesaat.
No comments:
Post a Comment