Sunday, March 15, 2026

#Iri dengki #manipulatif #munafik #kesaksian palsu

Ketika hati telah dipenuhi iri dan dengki, kebenaran tidak lagi dicari untuk ditegakkan, melainkan dipelintir untuk membenarkan kebencian. Orang seperti ini tidak tahan melihat orang lain hidup tenang, memperoleh rezeki, kehormatan, atau kebahagiaan. Apa pun ditempuh untuk menggagalkan nikmat yang ada pada saudaranya: fitnah disebar, prasangka dipelihara, bahkan doa dan nasihat dipakai sebagai selubung permusuhan. Yang paling berbahaya bukanlah kebencian yang tampak terang-terangan, melainkan kedengkian yang bersembunyi di balik wajah santun dan kata-kata saleh. Sebab iri hati yang dipelihara terlalu lama akan melahirkan kezaliman yang dianggap sebagai perjuangan moral.

Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang mendalami agama otomatis bersih dari penyakit hati. Ilmu bisa meninggikan derajat manusia, tetapi tanpa kejujuran batin, ilmu juga dapat menjadi alat untuk menipu manusia lain sekaligus menipu dirinya sendiri. Ketika agama dijadikan topeng bagi ambisi, lahirlah sosok “ulama-ulamaan”: pandai berbicara tentang kebenaran tetapi gelisah melihat orang lain mendapatkan karunia Tuhan. Ayat, dalil, dan nama Allah SWT dicatut untuk memberi legitimasi pada dengki yang sesungguhnya sangat duniawi. Mereka mengatasnamakan amar ma’ruf, padahal yang diperjuangkan hanyalah hasrat untuk menjatuhkan, menguasai, dan memastikan tidak ada orang lain yang berdiri lebih tinggi dari dirinya.

Orang-orang zalim seperti ini sering merasa dirinya pembela kebenaran, padahal yang mereka bela hanyalah ego dan iri hati yang tidak pernah selesai. Mereka pandai memainkan peran: di depan publik tampak bijak, seolah pembimbing dan penyelamat, padahal di belakang penuh intrik dan racun permusuhan. Sengkuni menyamar seolah-olah Kresna; kelicikan dibungkus kebajikan, manipulasi dipoles menjadi nasihat. Namun sehebat apa pun manusia menyamarkan niatnya, Allah mengetahui isi hati yang paling tersembunyi. Kedengkian mungkin mampu menipu manusia untuk sementara waktu, tetapi ia tidak akan pernah mampu menipu keadilan Tuhan.

Saturday, February 7, 2026

#Hama Perguruan Tinggi

Di lingkungan perguruan tinggi, kadang muncul tipe akademisi yang sangat vokal dalam menuntut hak, tetapi nyaris tidak pernah hadir dalam perjuangan meningkatkan kapasitas dirinya sendiri. Ketika ada pembukaan proposal penelitian, ia tidak mengajukan. Saat ada kesempatan studi lanjut, pelatihan, sertifikasi, atau pengembangan kompetensi, ia juga memilih diam di tempat. Namun anehnya, energi dan waktunya justru habis untuk mengomentari, mencurigai, dan mencari kesalahan kolega lain yang sedang berusaha maju.

Ketika dosen lain memperoleh hibah penelitian, membangun jejaring, menghasilkan publikasi, atau dipercaya mengelola proyek akademik, yang muncul darinya bukan rasa hormat atau semangat untuk belajar, melainkan iri hati, sinisme, dan tuduhan bahwa sistem tidak adil. Ia lebih sibuk merendahkan capaian orang lain daripada bertanya pada dirinya sendiri: “Apa yang sudah saya usahakan untuk berkembang?”

Ironisnya, saat ada tuntutan kenaikan kesejahteraan, tunjangan, atau fasilitas, justru ia yang paling lantang berada di barisan depan. Hak ingin diperbesar, tetapi tanggung jawab dan kontribusi sering dihindari. Kritik terus dilontarkan, tetapi refleksi diri nyaris tidak pernah dilakukan.

Perguruan tinggi tidak akan maju jika dipenuhi budaya seperti ini: budaya pasif dalam karya, tetapi agresif dalam keluhan; miskin kontribusi, tetapi kaya prasangka; enggan bertumbuh, tetapi gemar menjatuhkan. Lingkungan akademik seharusnya dibangun oleh orang-orang yang mau belajar, bekerja, berkompetisi secara sehat, dan menghargai keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk menebar dengki.

Sosok seperti ini perlahan dapat menjadi “hama intelektual” di kampus: tidak menghasilkan banyak karya, tetapi mampu menyebarkan energi negatif, mematikan semangat kolega muda, merusak budaya meritokrasi, dan menciptakan iklim akademik yang toksik. Kampus akhirnya bukan lagi ruang tumbuh, melainkan arena saling curiga dan saling menjatuhkan.

Pertanyaannya bukan sekadar “apakah ada tipe dosen seperti ini?”, tetapi lebih penting lagi: apakah lingkungan akademik kita berani membangun budaya yang menghargai kerja nyata, integritas, dan kemauan untuk terus berkembang — sekaligus tidak memberi ruang terlalu besar bagi mentalitas malas bertumbuh namun rajin menyalahkan keadaan?