Ketika hati telah dipenuhi iri dan dengki, kebenaran tidak lagi dicari untuk ditegakkan, melainkan dipelintir untuk membenarkan kebencian. Orang seperti ini tidak tahan melihat orang lain hidup tenang, memperoleh rezeki, kehormatan, atau kebahagiaan. Apa pun ditempuh untuk menggagalkan nikmat yang ada pada saudaranya: fitnah disebar, prasangka dipelihara, bahkan doa dan nasihat dipakai sebagai selubung permusuhan. Yang paling berbahaya bukanlah kebencian yang tampak terang-terangan, melainkan kedengkian yang bersembunyi di balik wajah santun dan kata-kata saleh. Sebab iri hati yang dipelihara terlalu lama akan melahirkan kezaliman yang dianggap sebagai perjuangan moral.
Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang mendalami agama
otomatis bersih dari penyakit hati. Ilmu bisa meninggikan derajat manusia,
tetapi tanpa kejujuran batin, ilmu juga dapat menjadi alat untuk menipu manusia
lain sekaligus menipu dirinya sendiri. Ketika agama dijadikan topeng bagi
ambisi, lahirlah sosok “ulama-ulamaan”: pandai berbicara tentang kebenaran
tetapi gelisah melihat orang lain mendapatkan karunia Tuhan. Ayat, dalil, dan
nama Allah SWT dicatut untuk memberi legitimasi pada dengki yang sesungguhnya
sangat duniawi. Mereka mengatasnamakan amar ma’ruf, padahal yang diperjuangkan
hanyalah hasrat untuk menjatuhkan, menguasai, dan memastikan tidak ada orang
lain yang berdiri lebih tinggi dari dirinya.
Orang-orang zalim seperti ini sering merasa dirinya pembela kebenaran, padahal yang mereka bela hanyalah ego dan iri hati yang tidak pernah selesai. Mereka pandai memainkan peran: di depan publik tampak bijak, seolah pembimbing dan penyelamat, padahal di belakang penuh intrik dan racun permusuhan. Sengkuni menyamar seolah-olah Kresna; kelicikan dibungkus kebajikan, manipulasi dipoles menjadi nasihat. Namun sehebat apa pun manusia menyamarkan niatnya, Allah mengetahui isi hati yang paling tersembunyi. Kedengkian mungkin mampu menipu manusia untuk sementara waktu, tetapi ia tidak akan pernah mampu menipu keadilan Tuhan.
No comments:
Post a Comment